Kamis, 01 November 2012

Secuplik Kecil Sejarah Amerika Serikat




Ketika kita bicara tentang Amerika Serikat di tahun-tahun ini maka kita bicara tentang
kebencian kita terhadap George W Bush, kebencian terhadap invasi Irak
dan kebencian-kebencian yang melandasi pemikiran tentang nafsu
hegemoni Amerika dalam menguasai, pernahkah kita berpikir
Amerika tentang sumbangannya terhadap kemajuan peradaban, ataukah
kita pernah berpikir Amerika yang memberikan ilham terhadap paham
pembebasan manusia.

Kita kerap menuduh Amerika sebagai biang dari segala bentuk kekacauan di muka bumi ini,
kita juga menganggap Amerika adalah agresor dari segala bentuk
konflik yang terjadi. Tapi ketika kita mendudukkan Amerika dalam
porsi sesungguhnya apakah kita akan berterima kasih atau malah tak
tahu berterima kasih.

Baiklah kita lihat Amerika dari sisi historisnya. Amerika Serikat pada awalnya adalah
sebuah koloni dari berbagai kerajaan Eropa seperti: Spanyol, Swedia,
Belanda, Inggris dan Perancis. Perancis kemudian lebih menyingkir ke
wilayah-wilayah utara yang sekarang kita sebut Kanada, ada juga
sedikit peninggalan Perancis di wilayah Selatan seperti New Orleans
dan komunitas itu di kenal sebagai cajun. Belanda yang pada awalnya
menduduki Pantai Timur dan beberapa pelabuhan di wilayah laut timur
Amerika, kemudian dan mendirikan sebuah kota yang kelak bernama New
Amsterdam, pada gilirannya kelompok dagang Belanda lebih menghendaki
agar Asosiasi Dagang Belanda lebih berkonsentrasi di Hindia Timur
(Indonesia) ketimbang melakukan kegiatan perdagangan di New Amsterdam
dimana pada waktu itu jumlah penduduknya masih sedikit, belum
terbentuk sistem masyarakat yang rapi dan alamnya masih begitu buas.
Lalu Belanda menawari Inggris untuk menduduki New Amsterdam dengan
kompensasi tertentu, barulah kemudian Inggris mengganti New Amsterdam
menjadi New York, kini New York menjadi kota terbesar di dunia.
Imigran pertama yang datang ke Amerika adalah orang-orang dari
Inggris, mereka rata-rata lari dari negeri Inggris karena adanya
penekanan-penekanan keagamaan, ketidaksetujuan mereka terhadap sistem
monarki di Inggris, dan mencari penghidupan yang lebih baik. Pihak
kerajaan Inggris-pun menyetujui imigrasi warganya ke Amerika, bahkan
mendukung penuh, pemikiran kerajaan Inggris pada waktu itu adalah
agar tersedianya ruang yang lebih luas bagi imperium Inggris,
terciptanya kebudayaan Anglo-Saxon di Amerika untuk mengimbangi
kebudayaan Spanyol-Porto (Latin) di selatan dan kebudayaan Prancis
(continental) di utara.

Lambat laun sejak terdesaknya Perancis dan Spanyol juga beberapa suku Indian oleh bala
tentara Inggris, maka kekuasaan Inggris di Pantai Timur semakin kuat,
Spanyol menyingkir ke selatan dan menduduki wilayah-wilayah selatan
untuk beberapa lama seperti : New Mexico, Florida dan Texas. Belanda
angkat kaki dari Amerika Serikat walaupun sebelumnya sempat
mendirikan sebuah koloni tersendiri yang bernama : United Netherlands
dan terbagi di dalam tujuh provinsi (De Zeven Province), karena
Belanda gagal mendatangkan imigran asli dari tanah Belanda ke
Amerika, maka pendukung United Netherlands tidak begitu banyak dan
sekuat pendukung loyalis Kerajaan Inggris, di tahun 1621 Inggris
menyerang Belanda, wilayah Belanda (sekarang terletak di sepanjang
sungai hudson dan sungai delaware) langsung dikuasai Inggris , ada
tiga pelabuhan penting yang di kuasai Belanda pada waktu itu, Fort
Amsterdam (sekarang New York City), Fort Orange (Sekarang Albany),
Fort Nassau (Philadelphia). Inggris melancarkan serangan dan Belanda
menyerah kemudian melakukan perundingan yang bersifat barter. Lalu
Swedia pernah juga sebentar menguasai Tanjung Delaware, tapi tak lama
kemudian juga diserang Inggris, yang paling hebat adalah pertempuran
antara Perancis dan Inggris, beberapa kali terjadi perang besar di
antara dua kolonialis tersebut, yang terbesar adalah “King James
War” dan akhirnya setelah terjadi konflik selama 38 tahun,
dilakukanlah pertemuan penting di Eropa untuk membagi koloni-koloni
di Amerika, Inggris mendapat 13 koloni, Perancis berhak atas wilayah
Kanada, dan menyerahkan Florida ke tangan Spanyol, dan Perancis juga
mendapatkan sisi barat wilayah sungai Mississippi.

Tiga belas koloni yang dikuasai Inggris kemudian berkembang pesat, banyak imigran datang,
dan membangun wilayah-wilayah baru. Inggris mendapatkan keuntungan
dari kegiatan dagang di koloni mereka. Pada abad 17 di Eropa muncul
pemikiran-pemikiran tentang mencerahkan masyarakat, banyak ahli
filsafat, kaum budayawan dan ilmuwan mengembangkan konsep pemikiran
tentang kebebasan berpikir, berusaha, beragama dan bebas dari rasa
takut. Konsep kebebasan yang berakar dari pemikiran-pemikiran kuno
Yunani yang sempat terkubur pada era kegelapan dimana kaum agamawan
dan raja-raja begitu menguasai masyarakat sehingga tidak ada lagi
ruang kebebasan bagi rakyat jelata. Agama menjadi sebuah bentuk
keyakinan yang dipaksakan,sementara kekuasaan monarki terlalu
absolut dan kebebasan bukanlah milik pribadi individu adalah tema
sentral yang digugat oleh pembaharu-pembaharu tersebut. Kota Paris
menjadi pusat pemikiran tentang kebebasan individu, di Paris-lah
konsep sebuah negara demokrasi modern di kembangkan. Wacana yang
berkembang ternyata juga mempengaruhi lapisan elite dari Amerika yang
kerap berkunjung ke Paris, sebut saja nama-nama : Alexander Hamilton,
Benjamin Franklin, James Adam, Thomas Jefferson dll, kalangan elite
Amerika masih melihat Paris sebagai kiblat budaya, sehingga walaupun
Inggris sebagai negeri induk Amerika, namun orang-orang Amerika lebih
tertarik ke Paris, Perancis.

Pada tahun 1776, seorang pemikir ekonomi Skotlandia, Adam Smith merilis buku berjudul “The
Wealth of Nation”inti dari buku ini adalah menciptakan kebebasan
penuh bagi dunia perdagangan, mencela campur tangan pemerintah,
menganjurkan spesialisasi dalam dunia pekerjaan, menyerukan untuk
menghilangkan tarif impor dan yang terpenting ia melihat ke depan
bahwa kemakmuran negara bisa diciptakan dengan semangat kebebasan
bukannya menimbun emas, kebebasanlah yang membuat orang akan menjadi
dirinya sendiri, menemukan bentuk individualitas yang paling utuh.
Pandangan Adam Smith serta merta mendapat dukungan dari David Hume
(sejarawan Inggris),Voltaire (ahli filsafat Perancis) dan Benyamin
Franklin (tokoh kemerdekaan AS). Paham Smithian akhirnya menjadi
inspirasi oleh intelektual Amerika untuk menciptakan sebuah
eksperimen negara yang berbasis pada nilai-nilai kebebasan.
Amerika-lah yang pertama kali di abad 18, mencetuskan ide negara
Republik, walaupun Perancis setelah kejatuhan Louis XVI menjadi
negara republik, namun Perancis hanya berhenti pada sistem oligarki,
dimana kekuasaan digenggam hanya pada kelompok-kelompok tertentu.

Pada tahun 1773, Inggris mulai melihat bahwa koloninya sudah mulai membangkang, Raja Inggris
pada waktu itu, King George memerintahkan 15 agen intelijennya untuk
menyelidiki perkembangan di Amerika. Setelah mendapatkan keterangan
yang detail maka pihak intelijen Inggris menyimpulkan bahwa kondisi
di Amerika tidak begitu parah seperti yang dibayangkan, bahkan
kelompok-kelompok yang anti Inggris hanya berpusat di sekitar
Virginia, Massachusets dan Boston sementara kaum loyalis Inggris
masih menguasai industri-industri dan pertanian besar di seluruh
Pantai Timur dan beberapa wilayah di Selatan.Dugaan intelijen Inggris
ternyata sepenuhnya keliru, gerakan anti Inggris punya pengaruh besar
di mana-mana, bahkan radiusnya sampai ke Perancis, Benjamin Franklin
seorang tokoh gerakan anti Inggris malah berhasil menggalang dukungan
resmi dari pemerintahan Perancis untuk mendukung kemerdekaan Amerika.

Pada tahun 1775, King George mengirim Jenderal Cornwallis untuk menangkap kelompok anti
Inggris, tak disangka armada Jenderal Cornwallis mendapat serangan di
sekitar pelabuhan New York oleh armada John Paul Jones. Saat Jones
menahan serangan armada Inggris, George Washington seorang mantan
perwira Angkatan Darat koloni dan petani kaya dari Virginia,
mensponsori pertemuan dengan beberapa perwira penting di koloni
Amerika, hadir pula Thomas Jefferson, di pertemuan itu disepekati
bahwa eksperimen negara Amerika harus segera dilaksanakan, dan
kemerdekaan Amerika adalah jalan satu-satunya, maka di gabungkanlah
kekuatan 13 koloni menjadi satu dan bernama United States of America,
yang disingkat USA. Kelompok Washington yang kemudian hari di sebut
sebagai ‘Patriot’ bertempur dengan Inggris yang dibantu kaum
loyalis. Pertempuran awalnya tidak seimbang karena banyak milisi yang
dimiliki USA tidak mampu bertempur dan tidak mengerti formasi perang,
oleh George Washington dibuatlah pelatihan cepat tempur dan hasilnya
sangat bagus, milisi akhirnya terlatih. Pasukan semi militer- milisi
merupakan tulang punggung USA, di bawahnya ada pasukan sukarelawan
mereka ini di pimpin oleh perwira-perwira didikan militer koloni.

Kelompok Loyalis tidak menyerah begitu saja di bangunnya enam divisi tempur darat dan
ditempatkan di lima titik di sekitar Virginia dan New York, lalu dua
belas armada laut malah menyusup ke lake Erie untuk menyergap milisi
koloni dari belakang. Sir William Howe menerapkan taktik sergap
menuju arah New York dan berhasil menguasai New York dalam tempo enam
minggu, Jenderal Washington mundur, dari situ Jenderal washington
menyuruh Kapten Dan White untuk meminta bantuan ke Kanada, namun
komunitas Quebec menolak membantu kaum pemberontak, akhirnya Dan
White mendapatkan bantuan malah dari negeri Perancis sendiri, ia pun
bertolak ke Perancis dan bertemu bangsawan muda Lafayette, Lafayette
lantas menyiapkan armadanya dan pergi ke Amerika. Sementara di Lake
Erie, pasukan Jenderal Gage berhasil mengepung Virginia, namun
Washington diam-diam menyuruh Admiral John Paul Jones menunggu sampai
pasukan Jenderal Gage tiba di Ohio.

Sesampainya di Ohio,pasukan Jenderal Gage mendapatkan serangan mendadak dari pasukan
Admiral John Paul Jones, yang dibantu William Clinton dari pasukan
milisi. Jenderal Gage pun menyerah dan pasukan John Paul Jones
mengumpulkan kekuatan untuk bersatu dengan Lafayette menyerang
Jenderal Cornwallis di Yorktown.

Gabungan kekuatan Washington, John Paul Jones dan Lafayette melakukan pengepungan di
tiga penjuru, Washington dari belakang bersama pasukan milisi, John
Paul Jones dari arah laut dan bersiap sebagai pasukan pembuka
sementara Lafayette langsung masuk dari arah laut terbuka, Jenderal
Cornwallis terkejut ketika mendapat serangan mendadak dari segala
penjuru, maka disuruhnya pasukan bersiap dalam formasi pertempuran
laut, tak dinyana dari belakang Jenderal Washington berhasil
menyergap Cornwallis, dan membuat pintu masuk ke benteng Cornwallis,
sementara pasukan John Paul Jones di pukul mundur oleh Cornwallis
sampai di tengah laut, tiba-tiba Lafayette menyerang dari arah
samping dan membuat armada Cornwallis berantakan, sembilan pasukan
khusus Washington berhasil menyusup ke Benteng Cornwallis dan menawan
lima belas perwira kunci Cornwallis lalu menyembunyikannya di bawah
tanah. Jenderal cornwallis pun menyerah. Dan Amerika Serikat
dinyatakan berdiri secara sah.

Source :  http://anton-djakarta.blogspot.com/2009/09/secuplik-kecil.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar